IN HOUSE TRAINING (IHT)

In House Training (IHT) adalah program pelatihan internal yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan staf pengajar serta tenaga kependidikan. Di SMP AL-BADAR CIPULUS, IHT merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran. Dengan pelaksanaan In House Training yang rutin, SMP AL-BADAR CIPULUS berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan mencetak generasi penerus yang cerdas dan berkarakter.

SMP Al-Badar Cipulus telah sukses melaksanakan In House Training pada tanggal 9-11 Desember, dengan mengusung tema Transformasi Pendidikan melalui Program Tatanen di Bale Atikan (TDBA). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan mengintegrasikan pembelajaran berbasis lingkungan yang inovatif. Program TDBA berfokus pada pengembangan keterampilan siswa dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan. Melalui pelatihan ini, para pendidik diharapkan dapat mengimplementasikan metode pembelajaran yang lebih dinamis dan relevan dengan tantangan zaman, sehingga siswa dapat lebih terlibat aktif dalam proses belajar mengajar dan siap menghadapi masa depan yang lebih baik.

Kegiatan in-house training pada hari pertama dimulai dengan sesi pengantar yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai tujuan dan agenda pelatihan. Setelah sesi pengantar, dilakukan kesepakatan kelas yang melibatkan semua peserta. Kesepakatan ini mencakup aturan main selama pelatihan, seperti keterlibatan aktif, komunikasi yang baik, dan menghargai pendapat satu sama lain. Materi berikutnya membahas urgensi transformasi pendidikan dengan menyoroti konsep “Tatanaen Dibale Atikan”. Transformasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Purwakarta melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan lokal. Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan konsep Outcome Harvesting, sebuah pendekatan untuk mengevaluasi hasil dan dampak dari implementasi Tatanaen Dibale Atikan. Metode ini membantu dalam mengidentifikasi perubahan yang terjadi sebagai hasil dari transformasi pendidikan, baik pada tingkat siswa, guru, maupun institusi. Implementasi Tatanaen Dibale Atikan dalam Kurikulum Merdeka menjadi salah satu fokus utama pelatihan. Peserta diajak untuk memahami bagaimana konsep ini dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum yang lebih fleksibel dan berpusat pada siswa. Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi sekolah untuk mengembangkan program pembelajarannya sendiri dengan tetap mengacu pada standar nasional. Materi terakhir pada hari pertama adalah merancang pembelajaran berbasis Pancaniti, yang merupakan panduan atau kerangka kerja untuk mengembangkan pembelajaran kontekstual. Pancaniti menekankan pada pengembangan karakter, penguasaan kompetensi, dan peningkatan kreativitas siswa. Panca Niti biasanya mencakup lima prinsip dasar yang digunakan sebagai panduan moral dan etika, antara lain:

Kesejahteraan (Artha): Mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bagi diri sendiri dan masyarakat.Kegiatan hari pertama ini diharapkan dapat memberikan fondasi yang kuat bagi peserta untuk memahami dan menerapkan transformasi pendidikan di sekolah masing-masing.

Kebenaran (Satya): Menjunjung tinggi kebenaran dalam perkataan dan perbuatan.

Keadilan (Dharma): Melaksanakan tugas dan kewajiban dengan adil dan merata tanpa memihak.

Ketahanan (Upeksha): Mempertahankan sikap sabar dan teguh dalam menghadapi tantangan.

Kebijaksanaan (Jnana): Menggunakan pengetahuan dan wawasan untuk mengambil keputusan yang bijaksana.

Pada hari kedua in-house training di SMP Al-Badar Cipulus, kegiatan difokuskan pada pengembangan keterampilan praktis dan refleksi melalui beberapa materi penting. Kegiatan dimulai dengan sesi praktik mindfulness. Sesi ini bertujuan untuk membantu peserta memahami pentingnya kesadaran penuh dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Peserta diajak untuk berfokus pada pernapasan, mengamati pikiran, dan merasakan kehadiran di saat ini. Latihan ini diharapkan dapat meningkatkan konsentrasi dan mengurangi stres. Selanjutnya, peserta terlibat dalam kegiatan peer teaching, di mana mereka saling mengajar dan berbagi pengetahuan. Setelah setiap sesi peer teaching, peserta melakukan refleksi untuk mengevaluasi pengalaman mengajar mereka. Setelah refleksi, peserta menerima umpan balik dari sesama peserta dan fasilitator. Umpan balik ini diberikan dengan cara yang konstruktif, menyoroti aspek positif serta saran perbaikan. Tujuannya adalah untuk membangun kepercayaan diri dan meningkatkan kualitas pengajaran. Materi selanjutnya adalah tentang desain lingkungan dengan menggunakan 12 prinsip permaculture. Prinsip-prinsip ini meliputi:

  1. Amati dan interaksi
  2. Tangkap dan simpan energi
  3. Hasilkan panenan
  4. Terapkan pengaturan diri dan terima umpan balik
  5. Gunakan dan hargai sumber daya terbarukan
  6. Jangan hasilkan limbah
  7. Rancang dari pola ke detail
  8. Integrasikan alih-alih memisahkan
  9. Gunakan solusi kecil dan lambat
  10. Gunakan dan hargai keanekaragaman
  11. Gunakan nilai dan tepi
  12. Gunakan dan tanggapi perubahan kreatif

Peserta diajak untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip ini dalam konteks lokal, guna menciptakan lingkungan belajar yang berkelanjutan. Kegiatan diakhiri dengan observasi lingkungan sekitar sekolah. Peserta diminta untuk mengamati elemen-elemen yang ada dan mempertimbangkan bagaimana prinsip permaculture dapat diterapkan. Setelah observasi, peserta melakukan refleksi untuk membagikan temuan dan ide-ide mereka tentang perbaikan lingkungan sekolah. Secara keseluruhan, hari kedua in-house training ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar secara praktis dan mendalam, dengan fokus pada pengembangan diri dan lingkungan.

Hari ketiga sekaligus hari terakhir dari in house training di SMP Al-Badar Cipulus berlangsung dengan penuh antusias dan beragam kegiatan yang bermanfaat. Kegiatan dimulai dengan sesi praktik mindfulness. Para peserta diajak untuk fokus pada pernapasan dan kesadaran diri. Tujuan dari sesi ini adalah untuk membantu guru dan peserta didik dalam mengelola stres dan meningkatkan konsentrasi. Praktik ini diharapkan dapat diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Setelah sesi mindfulness, peserta diberikan kesempatan untuk memberikan umpan balik hasil observasi. Dalam sesi ini, para peserta saling berbagi pengalaman dan temuan selama mengikuti pelatihan.

Materi berikutnya membahas tentang vertical garden dan syntropic farming. Peserta diajarkan cara membuat kebun vertikal sebagai solusi penghijauan di lahan sempit. Selain itu, konsep pertanian syntropic yang berfokus pada keberlanjutan dan keragaman hayati juga dijelaskan. Peserta diajak untuk mempraktikkan langsung pembuatan kebun vertikal di area sekolah. Setelah itu, peserta mempelajari tentang biosaka, yaitu teknik pertanian organik yang memanfaatkan mikroorganisme lokal untuk meningkatkan kesuburan tanah. Sesi ini diikuti dengan refleksi, di mana peserta merenungkan penerapan teknik ini di lingkungan sekolah dan rumah masing-masing.

Kegiatan diakhiri dengan observasi lingkungan sekitar sekolah. Peserta diajak untuk mengamati kondisi lingkungan dan menganalisis potensi serta tantangan yang ada. Setelah observasi, peserta melakukan refleksi untuk merencanakan tindakan nyata dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan sekolah. Dengan kegiatan yang bervariasi dan mendalam ini, diharapkan para peserta dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam kehidupan sehari-hari dan kegiatan belajar mengajar di SMP Al-Badar Cipulus.

Kabar Sekolah Lainnya

Download App Web Sekolah

Sekolah Berbasis Pesantren. SMP Al-Badar Cipulus, Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus Purwakarta.